Saya Ketemu Nemo!
Keajaiban pesona taman bawah laut membuat saya selalu rindu ingin kembali.

Ketika seorang teman melempar ide untuk snorkeling di perairan Kepulauan Seribu, dengan antusias saya langsung menyambarnya. Maka jadilah pada sebuah weekend setelah “harpitnas” bulan Mei lalu, saya dan 11 orang teman menyambangi beberapa pulau kecil di kawasan Kepulauan Seribu. Pukul 6 pagi, di dermaga yang terletak di areal pelelangan ikan Muara Angke – meeting point kami – sudah tampak wajah-wajah bersemangat para anggota rombongan. Tujuan kami adalah Pulau Pramuka yang akan menjadi basecamp selama dua hari itu.
Sambil menunggu teman-teman yang masih belum datang, kami duduk-duduk di sebuah warung di tepi dermaga. Tak disangka, beberapa menit kemudian, sang surya dengan keagungannya muncul dari balik dua gedung apartemen yang terletak tak jauh dari Muara Angke. Teman-teman yang hobby motret pun dengan sigap mengambil “senjata” masing-masing dan langsung beraksi mengabadikan bola berwarna oranye menyala itu naik ke singgasananya. What a view!
Pukul 6.30, kapal angkutan umum yang kami tumpangi – melayani rute Pulau Panggang–Pulau Pramuka–Muara Angke – bertolak dari tepi dermaga menuju laut lepas. Dengan membayar Rp 15.000 untuk sekali jalan, sekitar 80 penumpang – termasuk rombongan kami – memadati badan kapal yang dibagi menjadi dua ruangan dengan lantai berlapis vinyl dan atap kapal yang dilapisi karpet. Terus terang, baru kali itu saya naik kapal angkutan umum yang mengharuskan penumpangnya melepaskan alas kaki karena selama perjalanan mereka duduk lesehan di antara barang-barang bawaan para penumpang dan sayur-mayur yang akan dijual di pulau. Meski begitu, selama perjalanan ke Pulau Pramuka yang memakan waktu tiga jam itu, saya sempat hilang ke alam mimpi sambil diiringi deru mesin kapal dan bau sayur mayur mentah. Mungkin bersandar ke tumpukan sayur sawi, bayam dan daun bawang itu justru bikin terlelap, ya!
Pukul 9.30, kami berlabuh ke dermaga Pulau Pramuka. Kepenatan sepanjang perjalanan yang cuma melulu diisi pemandangan air sejauh mata memandang, lenyap sudah begitu melihat betapa jernihnya biru air laut di bawah dermaga sehingga kami bisa melihat ikan-ikan berseliweran di dalamnya.
Situasi dermaga pagi itu cukup ramai karena banyak anak-anak yang berseragam sekolah tengah menunggu kapal angkutan yang akan membawa mereka ke Pulau Panggang untuk sekolah. Belum lagi sejumlah penghuni Pulau Pramuka yang pulang ke kampungnya untuk liburan selama akhir pekan. Setelah menurunkan barang bawaan, kami menuju rumah orang tua Miki – pemuda asli Pulau Pramuka dan akan menjadi pemandu kami selama perjalanan – yang terletak tidak jauh dari dermaga.
Surprise…surprise…ternyata sudah siap tersedia nasi dan rupa-rupa lauk pauk bagi kami. Saking laparnya, tanpa basa-basi, kami langsung tancap gas menandaskan semuanya begitu dipersilahkan oleh tuan rumah. Habis makan, kami bergegas bersiap, ganti pakaian tempur untuk snorkeling, dan segera kembali ke dermaga. Sebelumnya, Miki memberikan kami beberapa lembar kertas yang dilaminating, yang isinya gambar-gambar biota laut beserta nama masing-masing. “Biar pada tahu nanti ngeliat apaan aja di bawah laut,” kilahnya.
Dengan menggunakan kapal bermotor milik ayah Miki, kami menuju Pulau Karya untuk menjemput Mas Jati yang akan jadi salah seorang “instruktur” snorkeling kami hari itu. Di Pulau Karya, kami menyempatkan diri untuk berkeliling, yang hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit berjalan santai. Sambil jalan, Miki yang ternyata juga anggota Komunitas Peduli Laut – komunitas anak-anak muda Kepulauan Seribu yang peduli dengan kelestarian alam bawah laut di kawasan tersebut, menerangkan panjang lebar berbagai info yang berkaitan dengan Kepulauan Seribu beserta tempat-tempat asyik untuk snorkeling atau diving.
Katanya, banyak pulau di Kepulauan Seribu yang sudah hilang karena abrasi air laut, sehingga kini hanya ada sekitar 108 pulau saja dan sejumlah perairan di beberapa pulau dijadikan tempat pembudidayaan terumbu karang. Miki juga sempat mengeluhkan kegiatan ekspor terumbu karang ilegal yang banyak sekali terjadi. Di Pulau Karya itu, Miki menemukan cangkang seekor box crab (kepiting guntur) yang bentuk capitnya menyerupai daun pintu yang tertutup. Oh ya, ternyata Pulau Karya itu tidak dijadikan areal tempat tinggal penduduk Kepulauan Seribu, tapi hanya untuk tempat pemakaman mereka saja. Pantas saja kami jarang bertemu dengan penghuni pulau selama berkeliling. Coba kalau malam, mungkin bisa ada penampakan juga, tuh!
Meninggalkan Pulau Karya, kami menuju Pulau Kotok Besar untuk mencari tempat sholat. Lagi-lagi kami disuguhi jernihnya biru air laut di bawah dermaga. Ada bintang laut berwarna biru lagi nangkring di sebuah terumbu karang, lho! Belum lagi sejumlah ikan warna-warni asyik berseliweran memamerkan keindahan dan keelokan tubuhnya. Segar banget!
Pulau Kotok Besar merupakan salah satu dari sekian resor yang ada di Kepulauan Seribu. Selain cottage-cottage yang bernuansa back to nature – karena letaknya yang saling berjauhan di tengah kerimbunan pepohonan selayaknya hutan – di resor tersebut para penghuni juga bisa snorkeling atau diving di perairan sekitar pulau yang airnya sudah saya ceritakan di atas, sangat jernih itu. Meski sudah tak tahan untuk nyebur ke laut, kami harus bersabar karena tempat tujuan snorkeling kami bukan di situ.
Tujuan kami yang sebenarnya adalah Pulau Semak Daun yang menurut Miki memiliki perairan yang dangkal dan cocok untuk latihan snorkeling para pemula seperti kebanyakan anggota rombongan. Wah, semakin tidak sabar aja nih untuk nyebur!
Pulau Semak Daun. Akhirnya! Segera kami melompat dari kapal dan menuju pasir putih pulau itu. Setelah sibuk memilih peralatan snorkeling masing-masing – terdiri dari masker dan alat pernapasan, pelampung dan kaki katak. Sempat terjadi kericuhan karena ternyata banyak kaki katak yang ukurannya terlalu besat untuk sebagian kaki kami. Tapi karena harus pakai kaki katak, ya sudah tetap dipakai saja!
Pertama, kami harus beradaptasi untuk bernapas di bawah air dengan masker dan selang pernapasan. Susah lho bernapas lewat mulut kalau selama ini sudah terbiasa bernapas lewat hidung! Mbak Ning, salah seorang anggota rombongan yang belum pernah snorkeling, sempat mengalami kesulitan untuk beradaptasi bernapas lewat mulut ini. Belum lagi masker yang kadang masih suka kemasukan air karena nggak terpasang dengan baik, dan beradaptasi dengan kaki katak yang ternyata kalau tekniknya salah, malah jadi bikin pergelangan kaki pegel! Untung, saya sudah pernah mencoba snorkeling sekali waktu sedang bertugas ke Bali. Jadi saya tidak terlalu kesulitan dengan peralatan snorkeling saya. Apalagi, arus juga sangat tenang sekali. Dengan system buddy atau berpasangan, kami mencoba berkeliling sambil membiasakan diri dengan peralatan snorkeling.
Kebingungan dan ketidakbiasaan dengan peralatan snorkeling segera sirna begitu kami melihat pemandangan terumbu karang yang menakjubkan. Lebih-lebih begitu ada ikan-ikan kecil yang berseliweran di antara tubuh-tubuh kami. Ssstt…ada Nemo berenang di dekat saya! Wah, taman di bawah laut ternyata tidak kalah indah dibandingkan taman-taman bunga yang ada di daratan! Beberapa anggota rombongan yang dilengkapi underwater camera segera beraksi potret sana sini. Setelah para “instruktur” melihat siswa-siswanya sudah cukup pintar snorkeling, kami naik kembali ke atas kapal, bertolak dari Pulau Semak Daun menuju taman bawah laut yang lebih menakjubkan lagi di perairan Pulau Gosong Pramuka.
Perairan Pulau gosong Pramuka. Peralatan snorkeling kembali kami kenakan, dan langsung satu per satu terjun ke birunya air laut. Masih dengan system buddy, kami berkeliling selama satu jam di kawasan itu. Arus air di kawasan itu lebih besar dari perairan di Pulau Semak Daun. Tapi karena sudah excited, hal itu tidak membuat kami gentar untuk snorkeling di tempat itu.
Betul saja. Pemandangan memang tambah menakjubkan. Tahu nggak, sejauh mata memandang, terhampar terumbu karang dari berbagai jenis. Ternyata, terumbu-terumbu karang itu memang sengaja dibudidayakan oleh masyarakat di Kepulauan Seribu. Pantas saja kami melihat sejumlah patok yang menjadi semacam “pot” bagi terumbu karang tersebut.
Seperti bunga di taman, terumbu-terumbu karang itu juga memiliki bentuk dan warna yang menakjubkan. Dan lucunya, banyak ikan-ikan kecil yang bermunculan dari sela-sela terumbu. Ada juga bulu-bulu babi di beberapa titik. Miki sebelumnya telah mengingatkan tentang bulu babi ini sehingga ketika kami melihatnya, kami harus lebih berhati-hati dan berusaha tidak menginjak atau menyentuhnya.
Soal sentuh-menyentuh, kami sempat kaget karena begitu ada bagian karang yang lebih tinggi dan kami ingin berdiri sejenak di atasnya, Miki dengan paniknya langsung memberi kode untuk tidak melakukan itu. Rupanya dia takut kalau kami melakukannya akan merusak karang dan terumbu karang di sekitarnya.
Sebenarnya, belum puas hati menikmati taman di perairan itu, tapi karena waktu sudah tak memungkinkan, kami terpaksa harus kembali ke kapal. Tujuan selanjutnya adalah tempat pembudidayaan ikan laut. Sejumlah ikan laut seperti clownfish, ikan kerapu, kami temui di tempat itu. Tubuh ikan-ikan tersebut bisa mencapai sebesar paha manusia kali! Dan ikan-ikan tersebut dikembangbiakkan untuk kemudian nantinya dilepas ke laut setelah cukup besar.
Tanpa terasa, sang mentari bergegas kembali ke peraduannya. Malam pun tiba dan kami kembali ke Pulau Pramuka untuk beristirahat. Cepat sekali waktu berlalu! Belum puas dan tidak akan ada puasnya saat menikmati taman bawah laut yang begitu indah dan menakjubkan itu. Tapi kami harus kembali karena besok pagi kami akan kembali lagi ke daratan Jakarta dan melakukan aktivitas rutin kami lagi. Dalam hati, saya bertekad untuk snorkeling lagi ke tempat-tempat lain yang lebih menakjubkan dari apa yang sudah saya nikmati di Kepulauan Seribu. Ada yang mau ikut saya? Hehehehehe….