Goyang Lidah ala Timur Tengah
Malam minggu tanggal 28 Februari yang lalu, saya ditemani dua orang teman saya, nekat menyambangi Restoran Hadramout di Jl. Tambak (kalau dari arah Pasaraya Manggarai, setelah melewati terowongan, belok ke kiri yang ke arah Jl. Proklamasi). Hampir saja saya kelewatan karena billboard nama resto itu terletak di atas pagar resto dan baru terbaca setelah lewat di depannya karena menghadap ke depan jalan. Saya sempat ragu karena pintu depan resto yang terbuat dari kayu dengan kaca patri itu tampak tertutup rapat – begitu juga kedua jendela yang lagi-lagi berkusen kayu dengan kaca patri. Tapi karena sudah di sms oleh mbak susanti bahwa dia dan Wisnu sudah ada di dalam resto, maka saya agak yakin untuk masuk.
Setelah pintu terbuka, tampak sebuah ruangan berdinding putih yang bagian kiri dan kanannya disekat-sekat dinding setinggi dada orang dewasa hingga membentuk cubicles yang mengapit lorong menuju dapur resto. Interiornya sederhana saja. Di dinding hanya ada ornament jendela berbentuk seperti kubah. Di lorong ada dua buah penyangga yang bagian atasnya melengkung (arches kalau nggak salah istilahnya) dan sebuah lampu gantung kristal yang sebenarnya tidak terlalu berfungsi sebagai penerangan karena di ruangan itu ada sejumlah lampu TTL. Di setiap lantai cubicle dilapisi karpet merah dengan bantalan di sekeliling temboknya untuk sandaran punggung. Ruangan eksotik yang penuh dengan ornamen ala Timur Tengah dalam bayangan saya langsung buyar. Suasana resto yang sepi jadi tambah sepi tanpa adanya alunan musik sedikit pun. Satu-satunya nuansa Timur Tengah di sana adalah wajah khas Arab pria pemilik resto dan busana para pelayan wanita yang berupa baju muslimah lengkap dengan jilbab.
Kami bertiga memilih cubicle nomor 4 dan mencermati menu yang disodorkan. Tidak banyak pilihan menu yang tersedia. Hanya ada Hadramout Mandi (daging ayam atau kambing yang disajikan di atas nasi mandi, nasi yang dimasak dengan bumbu Arab sejenis kari), Hadramout Madhbi (daging ayam atau kambing yang disajikan dengan arabic bread, mirip roti khas India), dan popular Hadramout yang terdiri dari green salad (irisan bawang bombay, tomat, timun hijau), yogurt salad (salad sayur dengan dressing dari yogurt), meat soup (sop daging kambing), sambousa (seperti kulit pastel yang dibentuk segitiga dan diisi daging cincang berbumbu). Karena tidak ada satu pun di antara kami yang pernah mencicipi masakan Timur Tengah, maka kami memutuskan memesan Hadramout Mandi dengan porsi 1/8 daging kambing yang dimasak dengan oven khusus, ½ ayam yang juga dimasak dengan oven khusus, dan nasi mandi, ditemani green salad dan sambousa. Sebagai minuman, kami memesan ice lemon tea, apple juice, dan green mint tea dalam poci.
Tak lama kemudian, pelayan datang kembali dengan selembar plastik bening yang ternyata untuk alas makanan pesanan kami. Wanita itu kemudian kembali lagi dengan sebuah nampan bundar yang penuh dengan nasi, dan di atas nasi itu tersaji daging kambing dan ayam pesanan kami. Cukup kaget juga kami melihat porsi nasi yang rasanya bisa dihabiskan oleh enam orang. Seperti bisa diduga, nasi tersebut akhirnya tidak habis karena kami bertiga sudah kekenyangan.
Si pelayan kemudian bertanya apakah kami ingin langsung makan bersama dari nampan itu atau menggunakan piring. Karena tidak terbiasa makan ramean di satu tempat seperti itu, kami memilih menggunakan piring. Keempukan daging kambing dan ayam langsung terasa begitu dikunyah. Hanya rasanya ternyata tidak sekaya masakan India yang penuh rempah-rempah. Bentuk butiran nasi mandi juga terlihat berbeda. Butirannya lebih panjang dibandingkan butiran nasi pada umumnya. Menurut si pelayan, beras yang digunakan langsung diimpor dari Arab dan dimasak dengan bumbu Arab tanpa menjelaskan lebih lanjut terdiri dari apa saja bumbu-bumbu itu. Tapi lagi-lagi menurut saya, rasanya kurang kaya.
Sebagai teman santap, disediakan dua jenis sambal yang terdiri dari sambal hijau yang digerus halus (hampir mirip wasabi, tapi lebih encer) dan tomat yang juga digerus halus. Saya malah lebih suka rasa sambousa karena rempah-rempahnya lebih terasa dibandingkan makanan utama. Saya juga suka dengan green mint tea pesanan saya. Rasa dan aroma mint teh itu sangat kental, apalagi jika diminum tanpa gula. Untuk harga makanan berkisar antara Rp 4.000 sampai Rp 800.000 (ini untuk ukuran satu ekor kambing), sedangkan untuk minuman berkisar antara Rp 4.000 sampai Rp 25.000. Untuk porsi satu orang, mereka menghargai Rp 40.000 per porsi baik untuk Hadramout Mandi maupun Hadramout Madhbi.
Secara keseluruhan, saya sebenarnya tidak terlalu puas dengan rasa makanan di resto ini. Karena saya tidak pernah mencoba masakan Timur Tengah sebelumnya, saya tidak punya perbandingan. Saya hanya berpatokan pada rasa masakan India yang pernah saya coba, yang menurut saya amat kaya dengan rasa rempah-rempahnya. Selain itu, lokasi resto yang tidak terlalu nyaman lingkungannya (di daerah Manggarai), membuat saya berpikir dua kali untuk kembali ke sana. Mungkin lain kali saya akan mencoba resto Timur Tengah yang lain sebagai perbandingan. Sebagai satu pengalaman kuliner, mencoba masakan Timur Tengah cukup unik juga.
Colours of Life
Hidup bukan hanya hitam dan putih...
Friday, March 12, 2004
Menjajaki Alam UK
Long weekend bulan Februari lalu, akhirnya kesampaian juga pergi ke Ujung Kulon.
Selama tiga hari itu, saya dan rombongan pencinta alam, Jejak Alam, meninggalkan Jakarta dan wara-wiri di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Mengakrabi hamparan pasir pantai, deru debur ombak, percikan air laut, kerimbunan rimba, gemerecik aliran sungai, dan binatang-binatang liar di kawasan yang luas keseluruhannya berkisar 120.551 Ha yang terdiri dari 76.214 Ha daratan dan 44.337 Ha perairan laut.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih lima jam dari Jakarta dengan bis carteran, kami tiba di Kecamatan Sumur, Pandeglang, dan langsung disambut terik matahari dan bau amis khas udara pantai. Pantat dan kaki yang pegal-pegal karena kelamaan duduk dalam bis kontan lenyap mendengar deburan ombak dan merasakan pasir pantai. Dari desa nelayan itu kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal motor nelayan sewaan menuju Pulau Peucang, basecamp kami selama di Ujung Kulon. Bagi saya yang hanya naik kapal kalau menyeberangi Selat Sunda atau Gilimanuk, itu pun dengan kapal besar, perjalanan membelah ombak kali ini cukup mendebarkan. Angin yang bertiup lumayan kencang membuat perahu kami yang tidak terlalu besar (cukup penuh untuk mengangkut anggota rombongan yang berjumlah 31 orang) terombang-ambing. Untung tidak turun hujan atau badai meski awan mendung mulai menggantung. Canda tawa sepanjang perjalanan yang memakan waktu kira-kira tiga jam pun turut membantu meredakan keresahan saya.
Menjelang senja, kami tiba juga di dermaga Pulau Peucang dan langsung disambut segerombolan rusa yang sedang merumput dan monyet-monyet nakal yang sedang bercanda di antara deretan bangunan sederhana resor yang memang diperuntukkan untuk para pengunjung taman nasional. Sayang, cuaca mendung dan hujan rintik-rintik mulai turun sehingga kami tidak bisa menikmati matahari terbenam. Hari itu kami akhiri dengan makan malam berlauk ikan asin, cumi dan telor dadar goreng sambil ngobrol ke sana kemari. Meski hanya beralas sleeping bag masing-masing, kami terlelap sambil diiringi suara rintik hujan.
Matahari terbit di ufuk timur. Dengan semangat 45, rombongan bangun dan bersiap-siap menjelajahi kawasan hutan taman nasional. Setelah antre mandi dan sarapan, kembali dengan berkapal motor selama sekitar satu jam, kami menuju kawasan hutan hujan tropis Cibom yang terletak di area Semenanjung Ujung Kulon. Karena kapal tidak bisa terlalu mendekat ke pantai, maka kami harus menaiki sampan kecil agar bisa sampai ke tepi pantai. Dengan membawa ransel kecil berisi perlengkapan pribadi seperti snack, air minum, dan obat-obatan, rombongan menyusuri jalan setapak yang diapit berbagai jenis pohon dan semak dengan panduan dari dua orang penduduk asli Banten yang sudah hapal banget seluk beluk tempat itu. Hujan yang mengguyur kawasan itu malam sebelumnya membuat tanah yang kami lewati sedikit licin dan berlumpur. Beberapa kali saya terpeleset ketika melewati bagian hutan yang menaik dan menurun. Untung banyak tangan-tangan yang menjaga. Kalau tidak, mungkin pantat saya sudah belasan kali mencium tanah basah. Untung hari kedua itu cerah ceria sehingga perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itu tidak terlalu memberatkan. Tapi tetap saja kami harus waspada terhadap duri-duri pohon rotan dan salak yang banyak tumbuh di sepanjang hutan yang dilalui. Kaki kanan saya sempat tercakar duri pohon salak karena kurang hati-hati. Sedikit cinderamata dari Ujung Kulon! Di hutan ini kami tidak menemui satu pun hewan liar kecuali suara-suara serangga hutan dan sesekali suara burung.
Keringat mengucur dengan deras dan betis terasa pegal serta kencang ketika akhirnya kami keluar dari kawasan hutan. Hamparan pasir putih yang halus dan deburan ombak memecah pantai! Segera rombongan kocar-kacir menuju pantai Ciramea. Kamera-kamera pun dikeluarkan dan setiap orang asyik mengabadikan keindahan pantai dan laut tanpa mempedulikan teriknya matahari siang bolong dan gerahnya udara pantai. Saya, sih, membasuh kaki saya yang penuh lumpur terlebih dulu di aliran sungai yang menuju laut, baru berburu. Beberapa orang teman tampak memunguti kerang-kerang cantik untuk dibawa pulang. Sementara yang lainnya terlihat asyik membasahi kakinya dengan air laut yang memecah pantai. Kami menyusuri hamparan pasir pantai Ciramea untuk menuju Karang Copong dan Tanjung Layar, daratan paling barat dari Pulau Jawa. Karang Copong adalah sebuah karang di pinggir laut yang menyerupai tumpukan gelondongan kayu-kayu. Lagi-lagi kami disuguhi deburan ombak yang menghantam karang itu.
Perjalanan kami kembali dilanjutkan dengan tujuan Tanjung Layar. Setelah selama hampir satu setengah jam menyusuri pantai dan sedikit masuk hutan kembali, kami sampai di daerah Tanjung Layar. Setelah beristirahat sekitar lima menit di sebuah lapangan rumput yang diapit dinding tebing karang, kami beranjak kembali masuk hutan untuk balik ke pantai tempat kapal motor berlabuh. Di tengah perjalanan, kami melewati reruntuhan bangunan yang kemungkinan besar dulunya adalah sebuah benteng Belanda. Sambil menyusuri jalan setapak yang cukup berlumpur, salah seorang dari kami berkomentar, Pasti dulu banyak opsir-opsir Belanda berseragam putih-putih dan bertopi putih yang lewat jalan ini. Kira-kira, mereka lewat naik apaan, ya? Nggak mungkin banget jalan kaki. Pasti mereka pake tandu yang diangkat orang-orang Indonesia atau naik kuda! Yang pasti, meneer-meneer itu nggak mungkin naik mobil! Setelah melewati reruntuhan itu, kami berpapasan dengan dua orang penduduk setempat yang lantas menyalami kami semua sambil melewati kami. Pas jam makan siang, kami sampai kembali ke tempat awal perjalanan hari ini dan menyantap makan siang sederhana, telur ceplok dan sayur singkong rebus. Rupanya perjalanan sebelumnya menguras cukup banyak energi sehingga semuanya tampak kelaparan kala menyantap makanan.
Tujuan selanjutnya adalah Padang Penggembalaan Cidaon. Sasarannya adalah sekelompok banteng yang sedang merumput di sore hari. Kembali kami menempuh perjalanan laut untuk sampai di sana. Padang rumput itu terletak sedikit masuk ke hutan. Sesampainya di padang, benar saja sedang ada sekelompok banteng betina yang sedang merumput dengan anak-anaknya. Banteng-banteng itu berkulit cokelat. Beberapa orang melontarkan celetukan, Kok, mirip sapi Bali, ya? Jangan-jangan, memang sapi, nih! Dilihat sepintas, rupanya memang seperti sapi, tapi ketika didekati, akan tampak tanduk mereka. Tapi tidak tampak banteng jantan yang berkulit hitam di situ. Kamera-kamera kembali dikeluarkan. Kami harus mengendap-endap di sela-sela rumput-rumput kuning yang tinggi untuk memperpendek jarak tanpa membuat mereka kabur atau menyerang kami. Tapi tak urung kawanan banteng itu menyadari kehadiran kami dan sedikit bergerak menjauh. Terpaksa saya dan beberapa orang teman saya mengendap-endap maju lagi, meski tak bisa terlampau dekat juga. Setelah puas mengabadikan kawanan banteng itu, kami kembali ke basecamp di Pulau Peucang. Karena hari belum gelap, sebagian dari kami melanjutkan kegiatan hari itu dengan snorkeling menikmati Taman Bawah Laut Pulau Peucang dan berenang di laut yang tenang. Saya dan seorang teman sore itu berniat memburu matahari terbenam. Namun sayang, matahari terbenam tidak terlihat dari tempat kami karena terhalang bukit. Kami harus memutari pulau itu kalau ingin menikmatinya. Karena tidak mengenal kawasan ini, kami berdua pun mengurungkan niat memburu sang surya ternggelam. Kami harus cukup puas dengan mengabadikan beberapa perahu nelayan yang kebetulan seliweran dekat pulau. Malam pun tiba. Langit kelam yang cerah tampak kontras dengan taburan bintang yang berkelap-kelip. Beberapa orang menghabiskan malam itu dengan tidur di atas dermaga beratapkan langit penuh bintang.
Pagi terakhir di Ujung Kulon basah diguyur hujan. Setelah berkemas, kami kembali berperahu motor untuk menuju Pulau Handeleum dan Desa Taman Jaya yang katanya merupakan habitat primadona Ujung Kulon, badak bercula satu. Karena waktu yang tidak memungkinkan, kami terpaksa tidak jadi mampir di Pulau Handeleum dan harus puas melihatnya dari atas kapal yang melewati pulau itu. Di tengah laut menjutu Desa Taman Jaya, cuaca mendadak berubah dan hujan tiba-tiba turun dengan lebat disertai angina kencang. Perahu kami terombang-ambing dimainkan ombak. Hati saya ketar-ketir. Saat itu saya baru menyadari betapa kecilnya saya di tengah lautan itu. Adegan film-film tentang badai di laut kini menjadi kenyataan. Saya panjatkan doa dalam hati. Rasanya waktu berjalan lambat sekali. Semua sudah siap dengan pelampung di badan untuk segala kemungkinan terburuk. Laju mesin perahu diperlambat untuk menyesuaikan dengan irama gelombang. Dengan keahlian luar biasa, juru mudi kapal akhirnya bisa membawa kami keluar dari badai. Laut kembali tenang meski ombak masih terasa cukup besar dan tetap mengayun-ayunkan kapal kami. Mendekati Desa Taman Jaya, kami melewati deretan bagan ikan, bambu-bambu yang disusun sedemikian rupa membentuk persegi yang lumayan luas dengan jaring penangkap ikan di bagian bawahnya. Bagan-bagan itu sengaja diapungkan di laut untuk menjaring ikan. Kalau jaring sudah penuh ikan, maka bagan itu akan ditarik kembali mendekati daratan. Sayangnya, ombak yang kuat tidak memungkinkan kami mendarat di Taman Jaya. Apa boleh buat, kami kehilangan kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri badak bercula satu yang memang jarang sekali muncul. Konon, badak-badak itu bisa mencium bau yang tidak biasa, termasuk bau manusia, dari jarak berkilo-kilo meter. Jadi wajar saja tidak semua orang beruntung bisa melihat penampakanannya karena meski masih jauh jaraknya, mereka sudah bisa mengendus kehadiran manusia dan akan otomatis langsung kabur, bersembunyi. Kami pun kembali menuju Kecamatan Sumur yang memakan waktu perjalanan hampir dua jam untuk kemudian balik ke Jakarta. Waktu tiga hari rasanya tidak cukup untuk menjelajahi Ujung Kulon yang amat kaya dengan keanekaragaman hayati.
Apa yang kami temui dan nikmati hanyalah sebagian kecil dari 700 jenis flora, 57 di antaranya termasuk langka, 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amphibia, 240 jenis aves, 72 jenis insekta, 142 jenis fisces, dan 33 jenis terumbu karang. Dalam hati, saya bertekad untuk kembali lagi ke Ujung Kulon suatu saat nanti dan menjelajahi tempat-tempat yang belum sempat saya datangi kali ini.
Wednesday, March 10, 2004
"LIfe is full of coincidences. Even two parallel lines might someday meet."
Pick-up dari sebuah film Mandarin "Turn Left, Turn Right" yang saya tonton minggu kemarin.
Entah kenapa, kedua kalimat itu langsung nempel di kepala saya.
Mungkin karena jauh di lubuk hati saya, ada secuil harapan bahwa tidak mustahil ada kenyataan yang akan mewujud dalam lembaran kehidupan saya. :)
You'll never know, right?
Tapi mungkin juga, lagi berasa romantis aja. :)