Petualangan Menuju Puncak
Apa sih enaknya mendaki gunung? Pertanyaan itu selalu muncul di benak saya setiap ada teman yang bercerita bahwa dia baru saja pergi ke gunung tertentu. Buat apa sih capek-capek menelusuri jalur menanjak dari kaki gunung menuju puncak kalau akhirnya setelah sampai di puncak harus kembali ke kaki gunung lagi? Makanya saya lebih senang berpetualang ke pantai atau tempat lain yang tidak mengharuskan saya mendaki. Bukannya saya anti-gunung. Tapi buat saya, lebih asyik mandi sinar matahari sambil bermain air di laut. Lagipula, saya tidak begitu tahan udara dingin di gunung. Jadi berpetualang ke daerah pegunungan tidak pernah menjadi sebuah opsi bagi saya.
Sampai saya berkenalan dengan Pangrango – sebuah milis para pendaki gunung. Perkenalan tersebut telah membawa saya berpetualang ke Gunung Raung di Bondowoso, Jawa Timur, dari tanggal 18 November - 22 November 2004 lalu. Gunung tersebut merupakan salah satu dari ”12 besar” puncak gunung di Indonesia, sebutan khas untuk 12 puncak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 meter di atas permukaan laut. Duduk di bibir kaldera berbentuk elips seluas lebih dari empat kilometer persegi sambil memandangi sebuah lubang di dalamnya yang kerap mengeluarkan asap, membuat saya bergidik. Bukan saja karena takut jatuh ke kawah sedalam 500 meter – tepi kawah sangat sempit, hanya cukup untuk tempat duduk, apalagi ada sekitar 20 orang di tempat itu – tapi juga akibat luapan kekaguman akan keagungan ciptaan Tuhan di sekeliling saya.
![]()
![]()
![]()
Saat itu juga saya baru mengerti mengapa banyak orang berusaha keras menjejaki puncak gunung tertentu walau hanya untuk setengah sampai satu jam saja. Begitu berada di puncak, segala kelelahan dan kesusahan yang saya rasakan sepanjang pendakian seolah sirna, terbayar oleh lukisan alam nan menakjubkan yang terpampang di depan mata. Secara spontan saya membisikkan rasa syukur pada Tuhan karena masih bisa menikmati semuanya itu.
Senyum kelegaan terpancar jelas dari wajah setiap orang yang ada di atas puncak itu, termasuk saya. Dan senyum saya bertambah lebar begitu jabat tangan erat menghujani saya, memberi selamat karena berhasil menaklukkan medan Gunung Raung yang ganas. Ada rasa bangga yang terselip di hati saya. Bagaimana tidak? Puncak itu merupakan puncak tertinggi yang pernah saya jejaki sampai saat ini dan merupakan petualangan terberat yang pernah saya alami. Percaya deh! It was not a joyride at all!
to be continued
5 Comments:
kalo perjalanan menuju puncak asmara kamyu gimana, Mel... hehehe
koq pake bersambung segala :P
-pije
gile, imel bener2 jujur banget, lebih jujur dr undix ;p
stratovarius
hei Imel .. salam kenal!
Asik ya naik gunung. Tapi gue kok kurang sreg dengan kata2 "menaklukan". Kesannya gimanaaaa gitu.
Kapan mo naik lagi?
allo imel.
Gw baru searching, eh ketemu blog lo. hehehe...
Hmm...betul kan. Naik gunung bisa bikin ketagihan ! hehehe
war
Post a Comment
<< Home