Thursday, October 07, 2004

Motret Sana Sini

Akhir-akhir ini, saya lagi keranjingan motret. Entah sudah berapa banyak rol film saya habiskan untuk memuaskan keinginan itu. Belum lagi uang yang saya keluarkan untuk memproses dan men-scan film-film itu. Pokoknya, setiap travelling, yang tidak boleh ketinggalan saya bawa adalah kamera Canon EOS 650 dan sejumlah rol film.

Sebetulnya, sudah sejak SMP saya hobi memotret (kalau dipotret sih dari kecil, soalnya ayah saya juga senang motret setiap pergi jalan-jalan). Berawal dari kamera pocket yang tinggal mengintip dari viewfinder, tanpa perlu memikirkan teknik motret yang memusingkan...klik...jadilah sebuah foto. Kalau sedang berkumpul dengan teman-teman atau pergi ke sebuah tempat, saya pasti membawa kamera.

Lama-lama, tidak puas hanya bermodal kamera pocket, saya mulai mengutak-atik kamera tua ayah saya. Bukan kamera mahal, hanya sebuah kamera merk Yashica tipe FX 3 Super. Manual banget. Saya belajar memfokuskan sebuah objek. Susah banget. Banyak foto yang blur, out of focus. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga. Tapi tetap belum bisa menghasilkan foto yang memuaskan saya sendiri karena saya tidak mengerti teknik memotret. Saya buta soal diafragma, speed, pencahayaan, komposisi. Pokoknya, begitu melihat momen yang menarik, langsung saya jepret. Tapi karena tidak improving juga, akhirnya saya menggantungkan kamera itu. Lagian, uang jajan saya agak tidak mencukupi ongkos produksi untuk membeli film dan mencucicetaknya.

Zaman kuliah, saya menemukan teman-teman yang ternyata hobi motret. Ya, akhirnya saya kembali menurunkan kamera tua saya. Agak minder karena teman-teman saya memotret dengan kamera yang lebih canggih. Trus, untuk belajar teknik memotret, saya ikut sebuah workshop fotografi dasar yang diakadakan klub fotografi di kampus saya. Lumayanlah, saya jadi tahu sedikit soal pencahayaan dan sebagainya. Sering juga diminta jadi seksi dokumentasi kalo lagi ada acara di kampus (biasanya saya minjem kamera teman yang agak lebih canggih). Pas zamannya demonstrasi, kamera tua saya juga tidak pernah ketinggalan. Untuk mengabadikan momen. Tapi, karena kantong saya masih juga menjerit untuk membiayai hobi saya itu, maka saya memutuskan untuk menggantungkan kembali kamera tua saya.
Cukup lama juga kamera itu hanya menghuni lemari saya. Sampai-sampai lensanya berjamur. Hanya sesekali saja saya menggunakan kamera itu untuk mendokumentasikan perjalanan saya.

Baru awal tahun 2004 ini saya kembali serius memotret. Lagian, teman-teman kantor saya ternyata banyak yang penggemar berat fotografi. Jadi, ada temanlah kalau tiba-tiba timbul keinginan untuk hunting. Kantong juga sedikit lebih berisi dan tidak terlalu terperas untuk membeli film dan mencucicetaknya. Apalagi saya juga mulai sering bepergian ke luar kota. Mau tidak mau, saya harus memotret untuk mendokumentasikan perjalanan tersebut.

Yang pertama terpikirkan...saya harus punya kamera. Untuk membeli kamera keluaran terbaru, jelas tidak mungkin. Jadi, saya melirik kamera seconhand. Kebetulan ada yang mau menjual dengan harga cukup reasonable. Jadilah saya mulai berpetualang dengan EOS 650. Beli lensa baru. Browsing di internet soal teknik motret. Ngobrol dengan teman-teman baru di milis fotografi. Hunting bareng. Foto-foto saya memang belum bisa dibandingkan dengan hasil foto para fotografer andal. Tapi paling tidak, perjalanan-perjalanan saya bisa terdokumentasi dengan lebih baik. Melihat hasil-hasil foto tersebut, saya jadi seperti kembali ke tempat yang pernah saya kunjungi itu. Ada kepuasan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Walau untuk itu, saya kembali harus memeras kantong saya lebih kuat...

O ya, kalau mau melihat beberapa foto yang saya jepret, klik aja ke link My Photos di boks sebelah ya...




0 Comments:

Post a Comment

<< Home