Friday, April 08, 2005

FIrst Entry in 2005

Let's see...
posting terakhir bertanggal 28 Desember 2004.
Ya ampun!!
Sudah tiga bulan lebih journal ini tidak di-update!
Pantas saja kepala ini terasa penuh. Mungkin ini saatnya untuk memindahkan memori-memori lama saya di sini, biar pikiran dan memori yang baru bisa masuk ke kepala saya
Mengutip tulisan di blog teman saya tentang blog-nya: “A small place where I put my gray hair every now and then, only to have extra storage for another thoughts & memories.”

Tuesday, December 28, 2004

Tsunami

27/12/2004 23:56 — Gempa 8,5 Richter dan badai Tsunami Ahad kemarin memorak-porandakan wilayah Aceh, Pulau Nias, dan pesisir Medan di Sumut. Korban tewas mencapai 4.448 orang dan diperkirakan terus bertambah karena evakuasi masih berlangsung.


Foto www.liputan6.com

Penggalan berita di atas saya kutip tanpa ijin dari www.liputan6.com.
Entah sudah berapa ratus korban lagi bertambah.
Belum lagi pupus air mata Ibu Pertiwi atas para korban meninggal dan korban luka akibat gempa yang mengguncang Nabire, Papua, Alor November lalu, kini Indonesia harus kembali menangis.
Bencana demi bencana seolah menjadi penutup tahun 2004.
Mungkinkah semua itu teguran Tuhan pada manusia agar di tahun yang baru nanti lebih memperhatikan tingkah lakunya di dunia?
Entahlah...

Friday, December 24, 2004

Merry Christmas to You

Natal selalu menjadi hari raya favorit saya. Meski ada Paskah yang merupakan hari raya terbesar umat Katholik, tapi bagi saya, Natal terasa lebih menyenangkan dan meriah. Bukan karena hadiah atau baju baru yang sering saya dapatkan waktu masih kecil. Bukan pula karena kartu-kartu atau ucapan Natal yang saya terima dari sahabat-sahabat saya. Tapi karena kedamaian yang selalu terasa menjelang dan di hari Natal.


Tadi pagi, begitu membuka inbox, ada sebuah e-mail ucapan selamat Natal dari seorang teman yang baru saya kenal sebulan yang lalu. Ucapan Natal terindah menurut saya, meski hanya terdiri dari kata-kata tanpa hiasan pohon Natal atau Santa Claus yang sering menghiasi sebuah kartu Natal.


Saya copy e-mail itu di sini agar semua orang yang membaca blogspot saya juga bisa turut menikmati keindahan Natal itu.


Terima kasih ya, San!



Rekonsiliasi Kasih Allah

Seminggu sebelum 25 Desember 2004, seorang teman dari divisi Web Development mengingatkan saya untuk membuat pengantar ucapan Selamat Natal yang akan ditayangkan di website Mitranet (http://www.mitra.net.id). Pada saat itu terpikir untuk membuat satu puisi Natal seperti yang biasa dibuat tahun-tahun yang lalu. Namun sampai menjelang deadline, setelah mencorat-coret kertas, tidak ada satupun rangkaian kalimat yang disebut puisi tercipta. Tetapi ada satu tema yang menjadi panduan saya yaitu REKONSILIASI.

Hari itu juga saya menghubungi seorang teman yang bekerja sebagai editor di Gramedia, menanyakan arti kata baku rekonsiliasi, karena saya tidak mempunyai kamus umum bahasa Indonesia. Dan salah satu arti kata yang tepat berkenaan dengan Natal adalah perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada kondisi semula.

Ya, Natal adalah salah satu bentuk Rekonsiliasi Kasih Allah kepada manusia. Suatu tindakan nyata untuk mengembalikan kondisi kasih yang mula-mula. Bila kita tilik setahun ini maka ada banyak peristiwa yang menghilangkan arti kasih. Peperangan di Irak yang tiada henti, kondisi keamanan di Aceh dan Palu yang masih saja bergejolak, gempa di Alor dan Nabire bahkan kenaikan harga elpiji yang menjadi kado di hari Ibu.

Namun disadari atau tidak, rekonsiliasi yang ditawarkan oleh Allah masih berlangsung sampai dengan saat ini. Natal tidak akan lengkap tanpa rekonsiliasi hati kita kepada Allah dan sesama manusia. Hiasan natal meriah tidak dapat menandingi keindahan hati yang mengasihi. Alunan lagu natal yang setahun sekali diputar akan lebih merdu bila dinyanyikan oleh hati yang diperbaharui.

Natal adalah saat rekonsiliasi. Sanggupkah kita ? Maukah kita ? Biarlah hati kita yang menjawab.

Selamat Natal 2004. Tuhan memberkati !


Sandra Brail

Thursday, December 23, 2004

Do They Know It's Christmas

[Written by B. Geldof]

It's Christmastime; there's no need to be afraid
At Christmastime, we let in light and we banish shade
And in our world of plenty we can spread a smile of joy
Throw your arms around the world at Christmastime
But say a prayer to pray for the other ones
At Christmastime

It's hard, but when you're having fun
There's a world outside your window
And it's a world of dread and fear
Where the only water flowing is the bitter sting of tears

And the Christmas bells that ring there
Are the clanging chimes of doom
Well tonight thank God it's them instead of you
And there won't be snow in Africa this Christmastime

The greatest gift they'll get this year is life
Oh, where nothing ever grows, no rain or rivers flow
Do they know it's Christmastime at all?

Here's to you, raise a glass for ev'ryone
Here's to them, underneath that burning sun
Do they know it's Christmastime at all?

Feed the world
Feed the world

Feed the world
Let them know it's Christmastime again
Feed the world
Let them know it's Christmastime again

Monday, December 20, 2004

Basah Seru di Cicatih

“Majuuuu…1…2…3…4…stop!”
“Kiri maju! Kanan mundur!”

Teriakan komandan baris-berbaris? Bukan. Itu aba-aba yang diteriakkan Mpan, salah seorang instruktur dari operator wisata arung jeram Cherokee, saat melewati sebuah jeram di Sungai Cicatih.


Iya, di hari Sabtu tanggal 11 Desember lalu, saya dan teman-teman dari milis Pangrango berarung jeram di sungai yang terletak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu. Setelah menempuh perjalanan Jakarta-Sukabumi yang berjarak kurang lebih tiga jam, kami tiba di base camp Cherokee. Para begundals yang kelaparan segera menyerbu teh manis hangat, lemper dan pisang goreng yang disediakan secara gratis oleh pihak operator.


Setelah menggasak habis makanan pembuka tersebut, kami lantas mengalihkan pandangan dengan liar ke deretan lauk pauk yang berjajar di meja sebelah. Tanpa basa-basi, kembali para begundals unjuk aksi menyikat makan siang tersebut. Padahal, makan siang tersebut tidak gratis. Tapi, siapa peduli. Kan ada Bombom, sang EO, yang akan mengurus pembayarannya…hehehehe….


Begitu perut kenyang, baru kami bersiap-siap untuk berarung jeram. Masing-masing peserta diwajibkan menggunakan pelampung, helm pengaman, dan membawa sebuah dayung. Untuk mencapai starting point, kami harus terlebih dulu menumpang angkot dan melewati jalan menurun yang berbatu-batu. Untung helm sudah dikenakan. Kalau tidak, kepala bisa benjol-benjol karena terantuk atap angkot yang rendah itu.


Setelah 15 menit terguncang dalam angkot, tibalah kami di starting point yang berupa sebuah bangunan terbuka yang sederhana dengan beberapa buah WC. Mana sungainya? pikir saya. Oooo…rupanya sungai itu masih di bawah...


Sebelum turun ke sungai, seorang instruktur dari Cherokee memberikan pengarahan terlebih dahulu kepada kami, mulai dari cara memegang dayung, memakai helm dan jaket pelampung, aba-aba yang akan digunakan, sampai cara berenang jika terjatuh ke air. Setelah itu, semua peserta dibagi ke dalam kelompok beranggotakan lima atau enam orang untuk tiap perahu karet. Di setiap perahu terdapat seorang instruktur dari Cherokee yang bertugas meneriakkan aba-aba dan mengendalikan jalannya perahu di antara jeram-jeram sungai.


Oke...saatnya berarung jeram!


Selama pengarungan, Mpan tak henti-hentinya mengomandoi saya, Rissa, Asih, Tumpal dan Hanif. Begitu terdengar teriakan, “Maju!” Kami berlima spontan menggerakkan dayung yang dipegang masing-masing ke arah depan, dan perahu karet berukuran sekitar 3 x 1,5 meter itu pun bergerak lebih laju.


Butuh kekompakan anggota satu kelompok dan kelincahan serta kegesitan sang instruktur agar perahu karet itu bisa dengan sukses melewati jeram-jeram - sebut saja di antaranya Jeram Selamat Datang, Jeram Blender, Jeram Naga, Jeram Cihui - tanpa terbalik ataupun "terdampar" di antara bebatuan sungai. Di Jeram Gigi (konon disebut demikian karena di lokasi itu Armand dari grup band GIGI pernah tercebur ke sungai), misalnya, Asih tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuh karena kakinya tersangkut di sela perahu karet, namun berkat kegesitan Mpan dan kekompakan keempat orang yang lain, perahu kami tidak sampai terbalik. Menegangkan juga, lho!



Foto-foto oleh Joe Item


Di saat melewati bagian sungai yang berarus tenang, ada perang cipratan air dengan perahu karet yang lain. Lucunya, sedang asyik-asyiknya ciprat-cipratan air sungai yang berwarna cokelat susu itu, tiba-tiba Gethuk, seorang anggota perahu "lawan" jatuh ke air. Makanya jangan kebanyakan bengong!


Keseruan dan kegembiraan kami berarung jeram akhirnya harus berhenti setelah 2,5 jam. Rasanya, baru saja kami memulai pengarungan...eh...sudah selesai. Sambil diiringi rintik hujan, kami pun naik ke daratan. Setelah makan, pijat gratis, dan membersihkan diri, kami kembali menuju Jakarta.


What a great way to spend your Saturday!


Friday, December 10, 2004

All I Want for Christmas is...

a boyfriend!


Hehehehe...sounds desperate ya? Mmmhh...sebenarnya bukan desperate sih, cuma udah bosan aja jadi jomblo. Iya, jadi jomblo emang enak. Mau pergi ke mana aja, nggak perlu lapor (kecuali ke orang tua ya, ini sih masih harus dilakukan). Ngobrol sama siapa aja, juga nggak perlu was-was bakal ada yang cemburu atau marah. Bebas!


Tapi kadang-kadang, pengen juga ada yang telepon cuma untuk bilang kangen. Atau kalau lagi bete dengan teman-teman, ada yang bisa diajak curhat. Intinya, pengen aja punya orang lain yang sayang sama saya, dan saya sayangi selain orang tua, adik, atau sahabat-sahabat saya.


Lagian, capek juga kelamaan jadi bulan-bulanan teman-teman di kantor karena kejombloan saya. Hehehehe...


Thursday, December 09, 2004

My Body is not Delicious

Aduuuuhhh...tubuh saya berasa nggak enak banget hari ini. Tenggorokan terasa kering dan sakit. Badan saya, menurut teman sebelah saya, terasa panas. Dan tangan saya dingin karena AC kantor. Kepala saya sedikit pusing juga.


Janji jogging bersama teman sekamar saya dan sahabat saya yang lain terpaksa dibatalkan. Tiket nonton film JIFFEST di PS juga terpaksa dilego ke teman saya yang lain. Ajakan squash dari teman-teman baik saya yang lain juga dengan berat hati saya tolak.


Yang paling ingin saya lakukan saat ini adalah bergelung dalam sarung saya di kamar kos, menikmati secangkir susu panas, makan jeruk Medan yang minggu lalu saya beli, trus tidur...


Semoga besok tubuh saya lebih sehat biar hari Sabtu bisa tetap ikutan arung jeram di Sungai Cicatih...


Petualangan Menuju Puncak

Apa sih enaknya mendaki gunung? Pertanyaan itu selalu muncul di benak saya setiap ada teman yang bercerita bahwa dia baru saja pergi ke gunung tertentu. Buat apa sih capek-capek menelusuri jalur menanjak dari kaki gunung menuju puncak kalau akhirnya setelah sampai di puncak harus kembali ke kaki gunung lagi? Makanya saya lebih senang berpetualang ke pantai atau tempat lain yang tidak mengharuskan saya mendaki. Bukannya saya anti-gunung. Tapi buat saya, lebih asyik mandi sinar matahari sambil bermain air di laut. Lagipula, saya tidak begitu tahan udara dingin di gunung. Jadi berpetualang ke daerah pegunungan tidak pernah menjadi sebuah opsi bagi saya.


Sampai saya berkenalan dengan Pangrango – sebuah milis para pendaki gunung. Perkenalan tersebut telah membawa saya berpetualang ke Gunung Raung di Bondowoso, Jawa Timur, dari tanggal 18 November - 22 November 2004 lalu. Gunung tersebut merupakan salah satu dari ”12 besar” puncak gunung di Indonesia, sebutan khas untuk 12 puncak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 meter di atas permukaan laut. Duduk di bibir kaldera berbentuk elips seluas lebih dari empat kilometer persegi sambil memandangi sebuah lubang di dalamnya yang kerap mengeluarkan asap, membuat saya bergidik. Bukan saja karena takut jatuh ke kawah sedalam 500 meter – tepi kawah sangat sempit, hanya cukup untuk tempat duduk, apalagi ada sekitar 20 orang di tempat itu – tapi juga akibat luapan kekaguman akan keagungan ciptaan Tuhan di sekeliling saya.



Foto-foto oleh Mas Boed, Bleem & Undix


Saat itu juga saya baru mengerti mengapa banyak orang berusaha keras menjejaki puncak gunung tertentu walau hanya untuk setengah sampai satu jam saja. Begitu berada di puncak, segala kelelahan dan kesusahan yang saya rasakan sepanjang pendakian seolah sirna, terbayar oleh lukisan alam nan menakjubkan yang terpampang di depan mata. Secara spontan saya membisikkan rasa syukur pada Tuhan karena masih bisa menikmati semuanya itu.


Senyum kelegaan terpancar jelas dari wajah setiap orang yang ada di atas puncak itu, termasuk saya. Dan senyum saya bertambah lebar begitu jabat tangan erat menghujani saya, memberi selamat karena berhasil menaklukkan medan Gunung Raung yang ganas. Ada rasa bangga yang terselip di hati saya. Bagaimana tidak? Puncak itu merupakan puncak tertinggi yang pernah saya jejaki sampai saat ini dan merupakan petualangan terberat yang pernah saya alami. Percaya deh! It was not a joyride at all!


to be continued