“Majuuuu…1…2…3…4…stop!”
“Kiri maju! Kanan mundur!”
Teriakan komandan baris-berbaris? Bukan. Itu aba-aba yang diteriakkan Mpan, salah seorang instruktur dari operator wisata arung jeram Cherokee, saat melewati sebuah jeram di Sungai Cicatih.
Iya, di hari Sabtu tanggal 11 Desember lalu, saya dan teman-teman dari milis Pangrango berarung jeram di sungai yang terletak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu. Setelah menempuh perjalanan Jakarta-Sukabumi yang berjarak kurang lebih tiga jam, kami tiba di base camp Cherokee. Para begundals yang kelaparan segera menyerbu teh manis hangat, lemper dan pisang goreng yang disediakan secara gratis oleh pihak operator.
Setelah menggasak habis makanan pembuka tersebut, kami lantas mengalihkan pandangan dengan liar ke deretan lauk pauk yang berjajar di meja sebelah. Tanpa basa-basi, kembali para begundals unjuk aksi menyikat makan siang tersebut. Padahal, makan siang tersebut tidak gratis. Tapi, siapa peduli. Kan ada Bombom, sang EO, yang akan mengurus pembayarannya…hehehehe….
Begitu perut kenyang, baru kami bersiap-siap untuk berarung jeram. Masing-masing peserta diwajibkan menggunakan pelampung, helm pengaman, dan membawa sebuah dayung. Untuk mencapai starting point, kami harus terlebih dulu menumpang angkot dan melewati jalan menurun yang berbatu-batu. Untung helm sudah dikenakan. Kalau tidak, kepala bisa benjol-benjol karena terantuk atap angkot yang rendah itu.
Setelah 15 menit terguncang dalam angkot, tibalah kami di starting point yang berupa sebuah bangunan terbuka yang sederhana dengan beberapa buah WC. Mana sungainya? pikir saya. Oooo…rupanya sungai itu masih di bawah...
Sebelum turun ke sungai, seorang instruktur dari Cherokee memberikan pengarahan terlebih dahulu kepada kami, mulai dari cara memegang dayung, memakai helm dan jaket pelampung, aba-aba yang akan digunakan, sampai cara berenang jika terjatuh ke air. Setelah itu, semua peserta dibagi ke dalam kelompok beranggotakan lima atau enam orang untuk tiap perahu karet. Di setiap perahu terdapat seorang instruktur dari Cherokee yang bertugas meneriakkan aba-aba dan mengendalikan jalannya perahu di antara jeram-jeram sungai.
Oke...saatnya berarung jeram!
Selama pengarungan, Mpan tak henti-hentinya mengomandoi saya, Rissa, Asih, Tumpal dan Hanif. Begitu terdengar teriakan, “Maju!” Kami berlima spontan menggerakkan dayung yang dipegang masing-masing ke arah depan, dan perahu karet berukuran sekitar 3 x 1,5 meter itu pun bergerak lebih laju.
Butuh kekompakan anggota satu kelompok dan kelincahan serta kegesitan sang instruktur agar perahu karet itu bisa dengan sukses melewati jeram-jeram - sebut saja di antaranya Jeram Selamat Datang, Jeram Blender, Jeram Naga, Jeram Cihui - tanpa terbalik ataupun "terdampar" di antara bebatuan sungai. Di Jeram Gigi (konon disebut demikian karena di lokasi itu Armand dari grup band GIGI pernah tercebur ke sungai), misalnya, Asih tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuh karena kakinya tersangkut di sela perahu karet, namun berkat kegesitan Mpan dan kekompakan keempat orang yang lain, perahu kami tidak sampai terbalik. Menegangkan juga, lho!


Foto-foto oleh Joe Item
Di saat melewati bagian sungai yang berarus tenang, ada perang cipratan air dengan perahu karet yang lain. Lucunya, sedang asyik-asyiknya ciprat-cipratan air sungai yang berwarna cokelat susu itu, tiba-tiba Gethuk, seorang anggota perahu "lawan" jatuh ke air. Makanya jangan kebanyakan bengong!
Keseruan dan kegembiraan kami berarung jeram akhirnya harus berhenti setelah 2,5 jam. Rasanya, baru saja kami memulai pengarungan...eh...sudah selesai. Sambil diiringi rintik hujan, kami pun naik ke daratan. Setelah makan, pijat gratis, dan membersihkan diri, kami kembali menuju Jakarta.
What a great way to spend your Saturday!